Teman sa’at sulit

Teman sa’at sulit

Artikel Teman sa’at sulit adalah refleksi saya sebagai pelaku usaha selama lebih kurang 7 tahun. Bergelut mencari jalan untuk tetap tegak. Bagi beberapa orang mungkin ini terkesan ada drama, seperti drama-drama kores selama covid19. Perjalan usaha awal 2020. Lebih dari sekedar membuat keadaan sesederhana 60 menit tontonan penuh ratapan dan air mata. Paralel dengan itu, keadaan sedih yang bisa kita nikmati dengan secangkir coklat panas dan kudapan hangat nan serasi. Kenyataan menjalankan bisnis seperti mengayuh sampan pada tengah badai.

Kadang kita terpaksa mengutuk ombak, kadang angin bahkan kadang serbuan ikan Indosiar yang tidak tentu kapan datang dan pulangnya. Pada waktu bersamaan bisa kita bayangkan tubuh yang letih dan kekurangan nutrisi dibawah terik matahari menghasilkan sebuah kenyataan yang membuat berbagai penyesalan dan umpatan bercampur. Dan mewujudkan kenyataan yang mesti kita nikmati. Tak banyak yang paham dan mengerti jika tidak benar-benar menjalani seorang diri saja. Bahkan dalam situasi tersebut kadang datang permintaan pertolongan yang mana seperti kita ketahui, pengertian banyak pihak tentang pengusaha adalah harta, uang dan kekayaan.

Virtual Office Expresoo

Penulis sadar betul bahwa tulisan pendek ini tentu tidak bisa menggambarkan perjalanan nan menyenangkan dari pengalaman baru. Ketika pergeseran pengalmaan dari pekerja yang mengikuti telunjuk atasan mengarah dan meminta. Beridiri sebagai seorang nahkoda dalam paksaan menjawab persoalan banyak pihak untuk menciptkan keadaan yang memadai bagi kebutuhan dan pertumbuhan tenan. Orang bisa bilang segala macam dari sudut pandang kemapanan mereka. Ada yang mengatakan ini hanya cerita abal-abal, dan kita tulis dari sebuah narasi imaginer.

Namun, pada sa’at ada tuntutan membayar uang sewa kantor yang menguras tabungan usaha, dan modal usaha. Tentu ini adalah kenyataan yang para pencibir ini berpikir bahwa mereka tidak ada urusan dengan itu. So, inilah sekelumit expresi bagaimana Expresoo virtual office menyelematkan usaha penulis pada sa’at berdarah-darah dan berjuang hanya untuk bisa merangkak dan berdiri. Bukan sebah keinginan berlari dan abadi. Seperti yang sudah mapan, dan mengakar dari leluhur mereka.

Ternyata, berjalan seiring waktu yang membedakan antara saya dan pelaku usaha yang sudah mapan adalah pengalaman dan pengetahuan. Bak buah kelapa, yang bersantan yang sudah tua. Tapi bukan berarti tua disini secara umur saja, justru sebaliknya faktor tua disebabkan oleh umur kadang bisa menyebabkan kelapa tua tanpa isi. Justru dengan adanya tradisi menulis dan membacar, serta membagi pengalaman. Penulis bisa melihat jalan tikus yang memberikan diskon waktu demi mencapai tujuan dan cita-cita.