Konsumen Nol Rupiah

Konsumen Nol Rupiah

Apa yang menohok dari judul artikel Konsumen Nol Rupiah?. Ini hanya sebuah refeleksi dini dari kondisi pasar yang sering dan akan dihadapi oleh banyak orang, yang memulai usaha dari segment konsumen mengengah kebawah. Ketika penulis mengatakan menengah kebawah adalah, selain element daya beli, juga element mentalitas. Dimana kedua element tersebut tidak mungkin bisa dipisah dari prilaku konsumen. Bahkan ketika seseorang calon customer melable dirinya sebagai pengusaha yang kaya dan berkualitas.

Serta mampu membeli apa saja, dengan ketentuan berlaku. Nah loh, ketentuan berlaku itu seperti apa, ya produk atau jasa yang akan dibeli terletak pada angka yang dipatok menurut kebutuhannya dan kemampuan kantongnya. Jika and berfokus pada persepsi nilai dan meletakan nilai sebagai tujuan berbisnis, sudah dapat dipastikan, faktor penolakan terbesar akan datang dari calon konsumen. Dimana penilaian terhadap produk dipatok pada “ah cuma ini juga” berapa sih (dengan muka keberatan)?. Wow, langsung jatuh mental mendengar pernyataan begini.  Dimana calon konsumen memberikan umpan negatif pada produk dan layanan anda. Pengalaman penulis mengatakan, calon konsumen seperti ini jangan di terima, alias ditolak saja. Kenapa? Mesti ini pertanyaan yang akan keluar dari mulut kita. Jawabannya adalah, karena mereka lebih peduli pada harga dibandingkan peduli pada nilai yang anda coba bawa melalui kendaraan bisnis anda.

Pendidikan Negara

Sudah tidak bisa ditolak, fakta-fakta bahwa negara memberikan pendidikan pada publik yang membuat, prilaku konsumen menjadi terfokus pada harga dan persaingan diskon. Dimana bisnis-bisnis yang bersifat pelayanan dan sudah dilakukan oleh negara atau dimonopoli oleh negara tidak mungkin bisa dibenturkan dengan kondisi real serta kemampuan modal dari pengusaha. Tapi apa yang terjadi sepuluh tahun terakhir ternyata ini menjadi terbalik. Sebagai contoh layanan publik transportasi. Yang mestinya menjadi layanan dasar dan pasarnya sudah dikuasai oleh negara melalui vendor-vendor yang bekerja memenuhi standar tersebut. Sebalikya justru bisa direbut, sebutlah ojek online. Namun sisa-sisa pendidikan harga murah terlahir dari sebuah mekanisme pelayanan yang tidak maksimal mengakibatkan serangan balik pada bisnis model yang dibuat oleh negara. Dan berakibat fatal pada wajah baik negara yang sudah dibangun dengan uang pajak.

Lalu bagaimana meresponya, sederhana karena dalam menanggapi situasi seperti konsumen nol rupiah terletak pada cara berpikir penyedia jasa. Dimana meletakan konsumen sebagai objek pasar bukan sebagai subjek yang akan membeli produk atau jasa. Dimana logika pelayanan publik dimanipulasi menjadi keuntungan pemodal. menarik bukan?.