Rumput Tetangga Kelihatan Hijau

Rumput Tetangga Kelihatan Hijau

Artikel Rumput Tetangga Kelihatan Hijau adalah pengalaman dan refleksi melihat bagaimana sebuah usaha terlihat keren dan untung.  Berapa sering kita menyadari bahwa penilaian kita sering salah ketika menilai sebuah penampakan fisik dari seseorang atau lingkungan kita.  Sering kita merasa dan melihat sebuah jabatan mungkin seperti mentri atau direktur adalah posisi yang mana glamor dan kekayaan serta nyaris tanpa kekurangan.

Namun apa nyata, dalam tahun ini saja ada 2 mentri dan puluhan direktur dinyatakan sebagai pelaku kejahatan korupsi. Yang jelas jelas prilaku tidak terpuji dari pejabat dan juga pelaku usaha. Tidak bisa dijadikan contoh dan tidak bisa menjadi panutan bagi orang muda yang bercita-cita menjadi pelaku usaha maupun pejabat publik. Budaya membandingkan sejatinya juga disuburkan dari model pendidikan yang tidak memberikan ruang gerak kepada peserta didik. Yang mana peserta didik sering diukur dari model pro rata. Dan model ini adalah model template yang menurunkan kualitas peserta didik dalam mekanisme kompetisi yang tidak sehat.

Pahit dan Manis 

Dalam pandangan kita sebagai orang yang membandingkan ini tentu biasa. Namun dari sisi bahwa sebagai sebuah kenyataan pahit yang mana pendapatan bisa berbanding terbalik dengan pengeluaran. Serta bayangan akan fatamorgana material membuat kita sering buta. Dan menilai terbalik, yang mana ketidak mampuan seseorang kita anggap sebagai kompetensi yang nyata demi memuaskan diri kita dalam menilai. Nah begitu juga dengan usaha dan jabatan. Kita sering melihat jika usaha sesorang dengan kunjungan pelanggan yang banyak serta berulang ulang. Serta keluar masuk dari lokasi usaha yang tidak cukup waktu menghitungnya. Seperti sebuah gambaran tentang sumber penghasilan dan pendapatan.

Dan point ini sering membuatkan kita menjadi tertunda melihat potensi diri. Dalam proses pengembangan maupun membangun kapasitas diri. Demi menjawab sebuah kepastian dalam masa depan. Sehingga kita memberikan kesiasiaan dari hanya melihat dan membangun kecemburuan diri. Dan selanjutnya merasa diri tidak berguna, sehingga sumber daya yang ada malah tidak bisa berkembang dan menjadi potensi yang bisa kita konversi. Rekomendasi penulis untuk menghadapi situasi ini adalah, merupakan bagian melihat rumput tetangga sebagai sebuah pembelajaran, bukan sebagai pembandingan. Yang mana mungkin tidak semua orang akan bisa membuka wawasan dan informasi untuk bagian pembelajaran. Namun percayalah kita bisa sangat tidak tahu dampak dari sebuah keterbukan untuk belajar. Pada keadaan inilah tangan tangan Tuhan berperan.