Properti Menjadi Beban

Properti Menjadi Beban

Properti Menjadi Beban sebuah masalah klasik yang muncul karena keterbatasan dalam kemampuan mengelola, pengetahuan akan pasar dan keterbatasan alokasi sumberdaya. Demi kepentingan image kadang para investor sering sekali salah memutuskan. Sedangkan ketika terbenturkan pada kepentingan investasi itu sendiri malah salah menilai. Tulisan ini inspirasi dari fakta fakta pahit para investor pemula yang salah membaca dan lemah dalam pengetahuan. Sehingga lebih banyak menambah beban keuangan dari pada menambah penghasilan.

Ini mungkin saja kita atau saya yang dahulu. Jika kita observasi dengan hati hati dan ikuti standar alokasi aset dan sumberdaya. Mungkin ini tidak begitu mudah bagi para investor memutuskan untuk masuk ke alokasi properti. Kelebihan julam properti kosong yang berakibat pada sumberdaya yang terbuang dari sisi perawatan, biaya operasi yang semakin hari semakin naik. Jauh dari dalam diri kita ,sebagai investor kita menolak kenyataan jika kritik itu datang menghampiri. Terutama jika kita bilang apa yang kita beli dan simpan malah menjadi beban bagi neraca keuangan. Bukan justru berkontribusi pada income malah menambah hutang dan beban. Sakit hati rasanya jika mendapat kiritik seperti ini. Dan semakin jelas dalam perjalannya, ketika menemukan teman sejalan yang bangunan bukan menjadi aset malah menjadi beban.

Solusi Asset

Solusi aset adalah sebauh pendekatan mengembalikan dan melepas aset tersebut kepasar. Demi kebutuhan menjaga kestabilan neraca keuangan. Mungkin akan ada kerugian secara biaya, tapi pemangkasan beban biaya lebih baik dari menambah biaya tanpa ada kepastian aset. Semakin hari cara berpikir seperti ini menyebar bukan saja diproperti. Namun juga menjadi sebuah solusi yang paling sering dipakai ileh pelaku investasi sering disebut dengan “Cut Loss”.¬† Pernah melakukannya?, ketika sudah pernah tentu akan terasa, tidak begitu nyaman rasanya. Mesti memotong sebuah perjalanan yang memiliki nilai sejarah dari sebuah upaya belajar investasi yang berakhir pada kebuntuan pembelajaran itu sendiri. Dari peran sebagai investor, sewaktu waktu bisa bergeser menjadi seorang seniman dan kolektor. Dinamika ini tentu mesti ditempatkan pada tempat yang tempat sehingga bisa menuai manfa’at serta keuntungan yang diharapkan.

Sejauh mata memandang, ruko, kantor dan rumah kosong menjadi sumberdaya terbuang. Mau tetap mempertahankan, itu pilihan. Mau “Cut loss” itupun pilihan. Karena investasi pada properti selalu seperti cerita taman kanak kanak, memberikan harapan jika pada waktu dan tempat yang tepat. Namun lumpur tak bertepi ketika salah tempat dan waktu.